rss

Senin, 03 Januari 2011

Perguruan Islam Mathali'ul Falah, Kajen


 Perguruan Islam Mathali'ul Falah Kajen
http://mutakhorijinkajen.blogspot.com/


Mathali'ul Falah yang pada mulanya lebih dikenal dengan sebutan "Sekolah Arab" berdiri pada tahun 1912 M. Ditengah gejolak bangkitnya kesadaran Nasionalisme bangsa Indonesia. Berbagai Organisasi muncul dan berkembang saat itu, seperti Muhammadiyyah dan Ormas lainnya terutama NU. Lahirlah sekolah ini adalah keprihatina dua kakak beradik yakni K.H. Abdussalam dan K.H. Nawawi dengan didukung Mbah Sa'id seorang Polisi dan dari Singapura yang pada dasawarsa kedua melakukan desersi, kemudian melakukan pelarian, sehingga suratan takdir membuatnya di Desa Kajen. Atas sistem pengajaran pesantren di desa Kajen yang saat itu kurang sistematis dan beliau berinisiatif memunculkan sekolah Arab ini yang dimotori oleh tokoh tersebut diatas adlah sistem pengajaran klasikal. Ternyata perkembangan sekolah Arab begitu pesat sehingga dalam kurun waktu empat tahun (1912-1916 M) pusat pengajaran yang bertempat di Lapangan Mbah Salam (Pol Garut) segera menuntut pemindahan lokasi, maka sebagai alternatifnya lokasi dialihkan di Kulon Banon.
                Meski hafalan menjadi ciri utama sejak berdirinya, namun PIM meresmikannya sebagai syarat kenaikan kelas pada tahun 1928 M. Syarat yang satu ini memang merupakan diantara sekian banyak ciri spesifik PIM yang berkesan lain dari pada yang lain dan kontrofersial hingga sampai sekarang.
                Syarat lain yang tidak sedikit memancing pertanyaan adalah larangan bagi siswanya untuk mendaftar sekolah lain selama masih belajar di PIM. Syarat ini kemudian disusul dengan larangan mengikuti Ujian Negara. Hal ini berdasarkan bahwa dengan demikian, siswa lebih konsentrasi pada satu tujuan “Tafaqquh Fiddin” tanpa adanya I’timad ‘alaa al-ghoir secara membabi buta.
                Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam mencerna pelajaran yang sudah disampaikan, sebelum menggunakan evaluasi sistem kuartal seperti sekarang ini. Semenjak tahum 1930 M mulai diadakan imtihan yang diselenggarakan 2 kali dalam setahun yaitu pada bulan Robi’ul awal dan Sya’ban. Beberapa Kyai kenamaan pada saat iu diundang sebagai penguji dan dipersilahkan untuk mengajukan pertanyaan bebas kepada siswa sejauh masih menyangkut pelajarannya yang diterima. Sistem ini berakhir sampai masa   kependudukan Jepang.                                      PIM Tempoe Doeloe
                                                                            http://mutakhorijinkajen.blogspot.com/
Adapun Tes baca kitab kuning mulai diberlakukan pada tahun 1993 M.
                Menjelang kependudukan Jepang (1942-1943 M) di Indonesia bergejolak. Kyai Abdussalam, Kyai Mahfudz Salam, KH. Nawawi dan KH. Thohir Nawawi memimpin pelawanan rakyat menghadapi pemerintah kolonial. Keempat pengasuh ini bersama beberapa santrinya berhasil ditangkap Belanda dan ditahan di Pati. Proses penahanannya kemudian oleh Jepang membawa keempat tokoh tersebut sampai ditempatkan dipenjara militer ambarawa. Disini beliau KH. Mahfudz Salam pulang ke rahmatullah. Proses pemakamannya tidak dapat pernah diberitakan pada Jepang dan juga tidak diketahui pihak keluarga beliau sampai sekarang. Hanya seperangkat pakaian beliau yang diterima oleh keluarga Kajen. Dan itu menandakan seorang yang ditahan telah meninggal dunia.
                Kedukaan kembali mengiringi, agresi militer dua (1948-1949 M) telah banyak membawa putra-putri pertiwi dan siswa-siswi Perguruan Islam Mathali’ul Falah, yang telah menunjukkan semangatnya dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Diantaranya adlah Hayim Mahfudz (Kakak KH. Dr. MA. Sahal Mahfudz), Hasbullah sasaran’adi (KH. Mustaghfirin) dan Mashadi.
                Meski dalam suatu duka ternyata Perguruan Islam Mathali’ul Falah masih begitu kokoh untuk melangkah, pengontrolan keseragaman kelas depan menapak kemajuan. Pada tahun 1951 M, mulai disusun kurikulum resmi pelajaran umum yang memasukkan Bahasa Inggris dengan pengajar KH. Rodli dari Jakarta (mantan Ro’is Suriyah PBNU).
                Sementara ini kepemimpinan Perguruan Islam mathali’ul Falah sejak ditinggalkan oleh KH. Muhammadun (PP.APIK) sampai kemudian tahun 1965 posisi kepemimpinannya dipegang KH. MA. Sahal Mahfudz. Pada tahun kepemimpinan beliau inilah ditambah jenjang baru, yaitu Aliyah untuk putra dan mu’alimat untuk enam tahun untuk putri.
                Sementara dalam memenuhi tuntutan situasi guna mempersiapkan kader-kader potensial yang sholeh da akrom maka lahirlah sebuah organisasi yang dinamakan Himpunan Sisw Mathali’ul Falah (HSM) yang didalamnya terdapat ciri spesifik semacam student groverment. Keberhasilan yang dicapai HSM ternyata juga menggugah siswi Mathali’ul Falah untuk membentuk organisasi serupa. Maka tahun 1977 lahirlah Himpunan Siswa Mathali’ul Falah Putri (HISMAWATI).
                Dalam mekanismenya ketua organisasi ini diberi kebebasan gerak oleh Perguruan Islam Mathali’ul Falah dengan menerapak konsep taman siswa “Ing Ngarso Sung Tulodho Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” sehingga organisasi ini mampu menciptakan berbagai bentuk prestasi. Diantara aktifitasnya adalah : Jurnalistik, Musyawaroh, Diskusi, Ceramah Ilmiah, Pengajian Umum dan lain-lain.
                Tenaga guru PIM adalah para alumninya sendiri, namun demikian seorang guru bahasa inggris dari Oxford University pernah mengambil bagian lewat program Valuanpres In Asia (VIA). Bula ini bernama Value Engle Musante. Dia sempat mengajar di Perguruan Islam Mathali’ul Falah selama 3 tahun (1981-1984 M) yang akhirnya ditarik kembali untuk ditugaskan didaerah lain.
Pada tahun 1987 M mulai diberlakukan dan ditetapkan sebagai Dewan yang bernama Pembantu Direktur, yang mana dewan ini memobilisasi sebagai bidang diantaranya : Bidang Kurikulum dan Pendidikan, Bidang Keguruan, Bidang Tata Usaha dan Keuangan, Bidang Kesiswaan.
                Demikian sekilas history tentang PIM yang perjalanannya tidak pernah berhenti membimbing siswanya menuju titik utama yaitu “Sholih wa-al-akrom”. Amin .........


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar